Judul Artikel
MULTY LEVEL ROLE
MODEL:
REKAYASA
IDEOLOGI DESA BALI AGA BERBASIS
KEARIFAN LOKAL TRIHITA KARANA
DI ERA
GLOBALISASI.
Oleh: I Made Pageh,
Wayan Suyasa,
Wayan Sugiartha

OLEH
I MADE PAGEH,
WYN. SUYASA, WYN SUGIARTHA
Bibiayai dari Anggaran DIPA Lembaga, dengan Kontrak
No. 0541/023-04.1.01.00/2011.
Tanggal 20 Desember 2010
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA
TAHUN, 2011
MULTY LEVEL ROLE MODEL:
REKAYASA IDEOLOGI DESA BALI AGA
BERBASIS KEARIFAN LOKAL
TRIHITA
KARANA
DI ERA GLOBALISASI.
ABSTRAK
Oleh:
I Made Pageh,
Wayan Suyasa, Wayan Sugiartha.[1]
Ideologi memiliki pengaruh besar
terhadap kehidupan masyarakat Bali. Desa Pakraman dalam perkembangan
sejarahnya, terjadi akulturasi beberapa ideologis yang dibawa oleh para Rsi (heroes culture) dalam penataan kehidupan
krama desa Bali Aga. Rekayasa
ideologi difokuskan pada masyarakat Bali Aga, dengan diawali dengan (1)
menanamkan konsep-konsep terkait dengan ideologi, konsep desa pakraman dan
trihita karana. (2) menetapkan kelompok sasaran, yaitu daha-truna, tetua desa,
elite desa, dulun desa, serta
tokoh-tokoh masyarakat berpengaruh. Dengan mengambil model/strategi (1) Multy Level Role Model (MLRM), (2)
Ekspositori, (3) Focus Group Discussion
(FGD), (4) Dialog interaktif, dan (5) pemuteran peraga elektronik. Untuk
mencapai tujuan ini, maka dibikinkan materi rekayasa social berbasis trihita karana itu, dikembangkan dari
hasil penelitian tahun sebelumnya. Materi rekayasa social, meliputi pemahaman
konsep-konsep dasar ideologi, desa pakraman, kearifan lokal trihita karana, sasaran dan strategi.
Materi, strategi rekayasa sosial, ditentukan oleh waktu, masyarakat sasaran,
dan sikon budaya masyarakat yang melingkupinya. Materi yang disediakan
menyangkut, (1) karakter pakraman desa Bali Aga, (2) perkembangan pemujaan roh
leluhur dari animism- dinamisme (megalitik) dan pemujaan roh leluhur, (3)
Pemujaan roh raja (kultus Dewaraja), (4) wujud fisik pura berideologi rwabhineda, seperti pura Agung Gunun
Raung, Taro, Dalem Balingkang, pura Daha Twa
dan sebagainya, komplek pura Panorajon, (4) Sistem pemerintahan Bali
Aga, Bali Dataran, dan system pemerintahan lainnya. (5) Perkembangan Desa
Pakraman, dan (6) beberapa kearifan lokal Bali yang dapat diungkapkan, (7)
kearifan lokal Bali berbasis trihita
karana, (8) kearifan lokal Mojopahitisasi, (8) kearifan lokal kultural, dan
dominasi ideologis desa dataran. Materi ini dapat dikemas kembali sesuai dengan
durasi, kelompok sasaran, dan kepentingan pakraman.
Keyword: Model Rekayasa Ideologi, Desa Bali Aga,
Kearifan Lokal.
ABSTRACT
MULTY
LEVEL ROLE MODEL:
MODEL REVITALIZATION
OF IDEOLOGY DESA BALI AGA BASED
ON LOCAL
GENIUS CONCEPTION OF TRIHITA KARANA
IN
GLOBALISATION ERA.
By
I Made Pageh,
Wayan Suyasa, Wayan Sugiartha
Ideology
has a direct impact to the life of desa
pakraman society. In the historical development of Desa Pakraman, there was acculturation of various ideologies
brought by some Rsis (heroes culture) in order to organize the
life of Bali Aga. The social
engineering focused at Bali Aga was initiated by: (1) implanting concepts
related to the ideology, basic concept of desa
pakraman, and tri hita karana concept (2) fixing focus group i.e. daha-truna the youth, the eldest, social
figure of desa pakaraman, dulun desa, as well as influential social figure, They were model/some
strategies used (1) Multy Level Role Model (MLRM), (2) Expository, (3) Focus group discussion (FGD), (4)
Interactive dialogue, and (5) Presentation of electronic media. In order to get
the projected goal, the social engineering materials were created based on trihita karana which were developed from
the previous research. The materials consist of the ideology basic concepts
understanding, desa pakraman, and
local genius of trihita karana, object
as well as strategy. The material of social engineering strategy is determined
by time, focus group, and cultural context of the society. The materials are,
(1) the characteristic of pakraman desa
Bali Aga, (2) development of ancestral cult from animism to dynamism
(megalithic) and the cult of ancestral spirit, (3) the cult of king’s ancestral
spirit, (4) structure of rwabhineda ideologcal
based temple, like Agung Gunun Raung Taro
temple, Dalem Balingkang temple, Daha Twa temple and Panorajon temple complex, (4) governmental system of Bali
Aga, Bali Dataran, and others
governmental systems (5) the development of Desa
Pakraman, dan (6) uncovered Balinese local genius, (7) trihita karana based Balinese local genius, (8) Mojopahitism local genius, (8) cultural
local genius and ideology dominance of desa
dataran. The material can be undergone some adjustment depend on duration,
focus group, and the aim of desa pakraman.
Keyword: Ideology
Engineering Model, Desa Bali Aga, Local Genius.
1. Pendahluan
1.1 Latar Belakang
Ideologi
memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kehidupan masyarakat Desa
Pakraman di Bali. Akulturasi beberapa ajaran yang pernah berkembang di Bali, yang
dibawa oleh pembuka agama (heroes culture)
dalam penataan kehidupan masyarakat Bali masih ada saling dominasi satu
dengan yang lain, saling resistensi di desa pakraman di Bali (cf. O,donnell,2009;42;
Sugriwa,1991; Sztompka,2008:48). Ideologi yang resisten itu, dalam pembinaan
umat sering diabaikan oleh pemerintah, sehingga acapkali memunculkan konflik
ideologis dan konflik nilai di masyarakat. Konflik desa pakraman di Bali menjadi lahan subur Media massa, karena setiap saat ada berita
konflik adat menarik dipublikasikan. Seperti masalah perebutan pura, setra/penguburan,
pemekaran desa, klaim perbatasan, konflik tanah desa pakraman, dan sebagainya. Kasus konflik adat bagaikan “gunung
es”, hanya teramati ujungnya saja, yang selalu menarik untuk dikaji (cf. BP
2010-2011).
Menangani
konflik adat, membutuhkan pemahaman ideologi dasar konflik secara mendalam.
Guna dapat dijadikan pengembangan model pemahaman ideologi berbasis lokal
genius trihita karana. Rekayasa ideologis
difokuskan pada masyarakat Bali Aga, karena kelompok masyarakat ini yang paling
termarginalkan dalam penanaman ideologis warisan leluhurnya yang telah mendarah
daging bahkan sudah diwriskan melalui sistem sosial, politik, budaya, dan relegi
yang dianut di desa pakraman Bali Aga.
Perubahan
ideologis membawa konsekuensi dalam kehidupan masyarakat. Usaha untuk melakukan
akulturasi, akomudasi dan modifikasi ideologis yang dianut di desanya justru
membawa konsekuensi dan implikasi yang sangat mendalam. Inilah beberapa masalah
strategis menarik untuk ditangani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di
Indonesia, khususnya di Bali.
1.2 Metodologi dan Konsep Teori
Pengembangan
model diawali dengan melakukan penelitian mengikuti langkah-langkah penelitian
sosio-budaya, yaitu melakukan penentuan subyek penelitian, pengumpulan data,
kritik sumber (analisis), interpretasi (pembangunan fakta sosial), dengan
sumber artifact, mentifact, sociofect,
dan relegiofact. Hasilnya
dimanfaatkan untuk pengembangan model (MLRM) berbasis kearifan lokal trihita karana di pakraman Bali Aga.

Prosedur
pelaksanaan MLRM diawali dengan: (1) menanamkan konsep-konsep terkait dengan
ideologi, konsep desa pakraman dan trihita karana. (2) menetapkan kelompok
sasaran, yaitu daha-truna, tetua desa, elite desa, dulun desa, serta tokoh-tokoh masyarakat berpengaruh. Dengan
mengambil model/strategi (1) Multy Level
Role Model (MLRM), (2) Ekspositori, (3) Focus
Group Discussion (FGD), (4) Dialog interaktif, dan (5) pemuteran peraga
elektronik.
Untuk
mencapai tujuan ini, maka dibikinkan materi MLRM berbasis trihita karana itu, yang dikembangkan dari hasil penelitian mengenai
ideologi desa Bali Aga berbasis kearifan lokal trihita karana di Bali. Berdasar hasil penelitian ditemukan pertalian
konsep teori sebagai berikut.
Dagan 01:
Pertalian Ideologi, Trihita Karana
dan Perkembangannya.
Sumber:
Diadaptasikan dari hasil penelitian (Pageh, 2009).
2.Hasil dan Penerapannya
2.1
Ideologi Desa Pakraman
Kajian
basis pengembangan model berupa desa pakraman tidk ada masalah desa pakraman
sebagai sistem pemerintahan tradisional yang telah dijalankan turun-temurun,
sehingga bahkan telah mentradisi. Desa pakraman dalam sejarahnya telah pernah
menjado republik desa, yang memiliki wilayah dengan batas-batas yang jelas,
pemerintahan berdasarkan senioritas (ulu-apad),memiliki
hokum adat dengan sanksi yang jelas, telah diputuskan dalam forum masyarakat (sangkep). Dengan demikian secara konsep
dia mampu mengelola dirinya dengan solid.
| Add caption |
2.2
Latar Belakang Perbedaan Ideologi Desa Pakraman di Bali.
Kepercayaan
animism dan dinamisme berkembang sejak zaman megalitik yang masih hidup, dilestarikan dalam sistem relegi
yang dianut, (Syaifuddin,2006:122; Geertz,1992; Dharmayuda, 1995) (Najamuddin,2002;
Jiwa Atmaja,2005).[2] Ada juga roh-roh diyakini menjadi bagian hidup
sehari-hari manusia disebut sanak catur.[3]
Wujudnya berstransformasi mengikuti zaman berlanjut mengikuti akulturasi
ideologi besar yang berpengaruh kemudian di Bali (cf. Kapland dan Manners,2002;
Kukla, 2003:51).
Roh
halus dan sanak catur menyebabkan ritual di Bali berlangsung
ajeg turun-temurun (Titib,2003; Patera,1996:209). Sifat catur sanak dilihat
dari konsep ideologi rwabhineda ada yang berpengaruh baik ada pula yang buruk.
Manusia meninggal Rohnya memiliki gender yang disebut purusha dan pradana
(Budhiartini,2000; Kusumawati,1996:147).[4]
Awalnya ideologi ini masih merupakan personifikasi orang tuanya, kepala
sukunya, rajanya, yang difungsikan sebagai pelindung (bhatara) diwujudkan dengan patung, pratima, dan daksina (Kompian
Gede, 2000:24; Mahaviranata,1993:1-4). Sedangkan pada pusaka, benda sakral
seperti keris, dan barang alam ajaib lainnya, tetap menjadi bagian ritual
manusia, di masyarakat dimusuhi dan diburu (Suantika, 1993:71; Suarbhawa,
1993:78).[5]
Di Desa Songan ada sekitar 45 benda sakral, turun
kabeh saat wali ngusaba desa, yang diikuti oleh 20 Dadia dengan Bhatara
Setiman (45 Bhatara), dituwur kalau keadaan memaksa, mendesak,
gawat dan ada genting desa (Bagus, 2007:69).[6]
Lingga-yoni keberadaannya dalam perjalanan
kepercayaan di Bali didedikasikan pada roh leluhur (abad VIII) dimodif dengan konsep
rwabhineda oleh Rsi Markandeya). Kemudian diformat oleh Mpu Kuturan menjadi trimurti ( abad X-VI), dan terakhir disempurnakan
dengan ideologi Dewa Nawa Sanga oleh Danghang Nirartha, mulai masuknya dewa-dewa India di Bali. Telah
terjadi akulturasi kepercayaan, bahwa pelingdungan pakraman bukan hanya
dilakukan oleh catur sanan, roh
leluhur, dan kekuatan gaib, tetapi juga kekuatan dewa-dewa pujaan pakraman Bali
Aga (sektarian/paksa).
Munculnya
sektarian di Bali dengan adanya pembuatan kahyangan inti/tunggal di
tengah-tengah dari segara-gunung yang
disebut pancering jagat, puseh, penataran, pemulungan dengan inti dewa faksa
sebagai pelindung pakraman. Sitem relegi ini ditemukan pada Catur Desa disebut
Banwa (Gebog/Kanca Satak/Domas) di
Desa Bali Aga. Pura inti berwujud penerapan ideologi sarwa genap antara lain keluar pura nyatur dengan titi ugal-agilnya (Desa Taro/Selulung). Juga ideology
ini ada di Catur Desa Gobleg, Sukawana, Depaha, Bantang, Awan, Tejakula,
Pacung, Sembiran, Bintang Danu (Suardana, 2010; Dikbud Prov. Bali, 2009).
Pelinggih
pelengkap lainnya adalah Pelinggih bermakna
nyatur, Pintu masuk pura ngempat,
Balai Pegat, Balai Agung Kembar, Gedong Rong
Dua. Ini merupakan penerapan ideologi
Rwabhineda dan nyatur. Hal ini
bermakna penghayatan bhuwana alit ke bhuwana agung (mikrokosmos ke makrokosmos), sehingga pemaknaan roh dari roh
leluhur/raja sakti menjadi roh jagat raya yang disebut Sang Hyang Tunggal,
Temuwuh, Sang Hyang Taya, Sang Hyang Embang, Sang Hyang wibuh, Jaga Pati, dll.
(Sudarsana,2005). Ideologi ini kemudian dijadikan dasar menata palemahan dan pawongan yaitu membentuk
sistem pemerintahan Ulu-Apad, dengan
sistem ritual yang mengikutinya, berupa pembersihan diri menuju jadi orang suci
sesui kedudukannya dalam ulu-apad, luan-teben di pakramannya. Dari Jero Kubayan ke bawah, kemudian ada satu
jabatan turun-temurun masuk dalam struktur ulu-apad
(kekuatan politik Gelgel/Mojopahit, Belanda), sehingga mengganggu keharmonisan binary oposition (cf.Parimartha,2004:29;
Astra, 2003:107).
Catur
sanak dipuja di empat lokasi (Jero Eka Songan): (1) di setra (Mrajapati), (2)
di Halaman Rumah (Anggapati), (3) di merajan disebut Banaspati (Jero Ketut), dan di
Angkul-angkul Banaspatiraja (Jero Nyoman
Pengadang-ngadangan). Oleh karena itu, awalnya di Desa Bali Aga tidak ditemukan adanya Dalem Durga, kecuali pakraman sekta
Ciwa, tapi banyak ada Dalem Purwa, Dalem Pingit, Dalem Ratu Lingsir, Kedaton,
dsb. Demikian juga rong telu, sebagai
pengganti padma tiga, setelah dibuat pelinggih padmasana zaman Danghyang
Nirartha. Bali Mula berkiblat ke Gunung Raung (barat), dan ke “dulun desa”
Gunung ke hulu, konteks nyegara-gunung.[7]
Sehingga jelas berbeda struktur pelinggih zaman Markandeya, Kuturan, Danghyang
Nirartha, dan model percampuran darinya.
Fungsi dan peran masyarakat Bali
Aga diatur berdasarkan prinsip senioritas, dengan demikian tampak jelas
prinsip “sasana manut linggih, dan
linggih manut sasana”, bergilir dengan dasar senioritas dan tingkat
penyucian tradisi ritual desa pakramannya. Senioritas berlaku dalam mengatur persembahyangan
(wali), pemerintahan desa, pembagian palemahan (laba pura/tanah ayahan desa),
dukun desa dan sebagainya [8].
Dengan kata lain penerapan kearifan lokal trihita
karana on order harmonization di pawongan,
palemahan Bawna (Catur Desa), dan di parhyangan (lihat Pitana dan
Setiawan,2004).[9]
Kemudian muncul ideologi Trimurti Kuturan pada zaman pemerintahan Udayana Warmandewa bersama
istrinya Gunapriya Dharmapatni, karena konflik sering terjadi (abad X) maka
didatangkan kelompok Mpu dari Jawa Timur disebut Mpu Kuturan.[10]
Dari 9 sekta yang ada dijadikan 3 kelompok penganut (dasar hukum alam): (1)
Bhudaisme, (2) Siwaisme, dan (3) Brahmanisme gabungan desa-desa Bali Aga (Pande, Indra, dan dsb).
Kemudian disebut aliran trimurti.
Saling mendekat (reinecment) ideologi Rwabhineda
dengan Trimurti (hasil Samuan Tiga), maka muncul bentuk
Lingga-Tiga, pelinggih Padma Trilingga,
Gedong Rong Telu, dan bangunan lain
pengejawantahan ideologi itu (Wikarma, 1998:5-14; Titib, 1989:21). Padma Tiga
ditemukan di Songan, Pura Pegonjongan, Besakih, Pura Dalem Balingkang, dan
sebagainya. Dengan diwajibkan semua desa
pakraman membangun Tri Kahyangan Desa,
Pura Dadya, Kawitan, dan Pekurenan wajib ada rong tiga, terkesan ada
dominasi (Sudarsana,2005, Fox,2010; Titib,
1989). Ketika Gedong Rong Telu
muncul, maka Padmatiga (Padmatrimurti) disebut juga Sanggah Surya (hilang)
diganti dengan Padmasana. Ajaran dewa
nawa sanga ini melengkapi bentuk bangunan lainnya sebagai alternatif dalam
menerjemahkan berbagai ajaran yang mau diwujudkan di Bali, baik sebagai
perwujudan ajaran rwabhineda, trimurti,
dan dewa nawa sanga itu. Wujudnya Padmasana, kemulan rong telu, dan
meres-mujung (rambut sedana).
Akulturasi dan sinkritisme
menyebabkan ada aneka bentuk bangunan pelinggih,
kepercayaan, dan banyak bhatara lokal
dipuja bahkan berbeda-beda antarsatu merajan dengan merajan lainnya. Terutama
muncul pembikinan meru
(pagoda/fundenberundak) pemujaan heroes culture
yang berjejer panjang dari meru tumpang 2 sampai dengan 11, makin tinggi status
pura dan klan makin tinggi pula meru yang bisa dibangun, seperti Batur, Songan,
Besakih, Sukawana. Besakih adalah pendedikasian yang penuh makna dari tradisi
megalitik, kultus roh leluhur, kultus dewa raja, sampai kultus rsi dewa (cf.
Fox, 2010; Sudarsana, 2005; Covarrubias,1973:263; Pageh, 2009).
2.3 Perbedaan Ideologi
Desa Bali Aga dengan Desa Bali Dataran
Perkembangan
system relegi di Bali akarnya dapat diselusuri dari zaman megalitik, ajaran Rsi
Markandeya (abad ke-8), Mpu Kuturan (abad ke-11) dan Danghyang Nirartha (abad
ke16). Munculnya dualisme ideologi yaitu idealisme berdasarkan konsep rwabhineda dengan konsep trimurti, menjadikan berdampak ikutan
yaitu konflik desa pendukungnya yang berkonotasi desa Bali Aga dan Desa Bali Dataran. Dualisme ini sepertinya ada
dikotomi Bali Aga (pendukung Raja
Bali Kuno, sentrum Kediri/Daha Jawa Timur, dengan Desa Apanage wong Mojopahit.
Pemaksaan idealisme trimurti yang menjadi kebijakan kerajaan/pemerintah, melalui
berbagai kewajiban (“menghukum”), Lomba Desa, bantuan tunai pemerintah
menjadikan proses mojopahitisasi makin keras sejak abad ke-16 hingga kini,
sangat memarginalkan desa pakraman Bali Aga. Kesempatan ini menjadikan desa
dataran mendominasi desa Bali Aga,
berarti pula mengukuhkan fiodalisme di era demokratisasi. Maka konflik sering
tidak terselesaikan, dan berujung kekerasan, walaupun penampakannya baru
terlihat ketika terjadi hajatan politik, pemekaran desa, pembangunan pelinggih
baru dan sebagainya (cf. Suyasa, 2002; Sudiana, 2007).
Perbedaan
Ideologi Desa Bali Aga dengan Desa
Bali Dataran
Ideologi Desa Bali
Aga
|
Ideologi Desa
Bali Dataran
|
§ Kahyangan inti nunggal,
klg dengan kayu sakti
|
§ Pura
Trikayangan, Dalem-Puseh-Balai Agung.
|
§ Penerapan
tradisi megalithik, Lingga-Yoni,
Pohon Besar di sekitar pura , Batu besar, untuk roh leluhur, serba dua.
|
§ Pemujaan
roh heroes culture, muncul dadia,
bentuk pelinggih mulai didominasi oleh Meru tumpang ganjil.
|
§ Pura
Utama (Pancering Jagat, Puseh, Pemulungan Agung, Pura Desa) tempat pemujaan
roh-roh klan yang ada di pakraman itu.
|
§ Pura
Kahyangan Tiga, Sadkayangan, Dangkahyangan.
|
§ Konsep
Nyegara-Gunung, Gunung Raung
sebagai orientasi utama. Dengan Kandaphat sebagai dasar keyakinan (kekuatan
gaib).
|
§ Konsep
kelipatan tiga, trikahyangan,
sadkahyangan, Gunung Agung Pusat orientasi bergama.
|
§ Konsep
Nyaga Satru (Nyatur), dan maulu ke tengah (pempatan agung), dan Gunung Raung Jatim
|
§ Konsep
Padma Bhuwana, Dewa Nawa Sanga sebagai penjaga penjuru mata angin, maulu kangin
dan Gunung Agung.
|
§ Bebaturan,
Padma Capah, ada juga Padma Trisakti (Surya Rong Tiga, rong dua). Gedong rong
dua, Tugu di Mrajapati, pekarangan, sanggah, dan lebuh. Bersifat serba genap.
|
§ Padmasana,
Rong Telu, Meru dengan tumpang Ganjilnya dari 3 sampai 11, Rong Tiga menjadi pembeda dengan
sebelumnya. Tugu berlanjut.
|
§ Sistem
pemerintahan Ulu-Apad. Berdasarkan
senioritas, desa pakraman dibentuk menggunakan macapat dan rwabhineda, di
tengah-tengahnya ada perempatan agung.
|
§ Kekuasaan
diutamakan dipegang oleh triwangsa
dan mandat dari penguasa Gelgel turun -temurun. Berdasarkan hak-hak istimewa
dari kerajaan (feodalis) .
|
§ Resistensi
tradisi megalitik, penghormatan leluhur, dan kekuatan alam
(animism-dinamisme).
|
§ Pemojopahitan
dari desa-desa pakraman, termasuk dominasi pada desa Bali Aga.
|
§ penggunaan
lahan diatur mendasarkan kedudukan dalam ulu-apad.
Berdasar kedudukan , sistem bergilir.
|
§ Tanah
telah dibagi secara permanen berdasarkan penguasaannya (bekal), pecatu kerajaan.
|
§ Pura
ditempatkan pada pusat desa, dan pelaksanaan kegiatan pecaruan banyak
dilakukan di perempatan Agung.
|
§ Pura
ditempatkan di Teben Desa (Dalem), Tengah Desa (Puseh dan Balai Agung).
|
§ Penataan
ruang pura, menggunakan triangga,
dasar Gunung, yaitu Kaki, Badan, dan Puncak (kasus Pura Penulisan).
|
§ Penataan
ruang pura menggunakan trimandala yaitu
jaba sisi, jaba tengah, dan jeroan.
|
Sumber:
Disarikan dari studi dokumen, wawancara dan observasi lapangan, (Pageh, 2010).
Klasifikasi
ideologis berdasarkan jejak-jejak sejarah berupa bangunan fisik/artefact, mentifact, sociofect dan religiofact
menyangkut keyakinan (budaya agama) membutuhkan kemampuan kritik sumber kuat,
untuk dapat pemahaman jiwa zaman dan ikatan budaya zaman (ideologis) secara kronologis.
Kenyataannya di lapangan tidak ada desa monotradisi yang dapat dijadikan model
saat ini, karena telah berakulturasi dari tiga ideologi utama di atas.
2.4 Dampak Dominasi Ideologis Bagi Desa Bali
Aga
Tidak ada paradigma tunggal dapat
dipergunakan untuk memahami kebenaran ideologi, nilai, dan struktur yang
ditemukan di masyarakat. Migrasi penduduk dengan kepercayaannya desa
pakramannya, membawa kesulitan sendiri dalam menganalisis jejak yang tersisa
(Putrawan, 2008). Kini di desa ditemukan
campuran tradisi yang berdasar tradisi besar dan tradisi kecil (Mantra,1997;
Sudiana, 2007; Agastia, 1999;lihat Wisnumurt, 2008:29).
Jika
tidak dipahami dasar ideologinya maka terjadi saling tinjak (Atmadja,2010). Dalam
konflik ideologi, masyarakat Desa Bali
Aga jadi pihak termarginalkan. Karena ideologi Markandya, dan Kuturan
banyak sudah dikosongkan nilainya kemudian diisi dengan nilai Nirartha sebagai
nilai ideologi yang dikembangkan di Geria yang menjadi pusat penjelasan
tradisi, bahkan tatwa dan susila (Siwasidantha), dan terakhir mendapat
legitimasi dari pemerintah melalui kegiatan lomba desa (Artika, 2008).
Hegemoni
ideologi Nirartha, terhadap tradisi yang dikecilkan masih berciri megalithik
dan ajaran Markandeya terus berlangsung (Wisnumurti, 2008:29). Galungan saja
dinilai bahwa intinya kemenangan dharma melawan adharma, yang dikonotasikan
wong mojopahit (dharma) dan Bali Aga
(Mayadanawa) adalah adharma. Hal ini dapat dijelaskan dalam konteks perlawanan
tradisi, seperti masyarakat Busungbiu yang tidak mau memenjor saat Galungan.[11]
Dominasi
Bali Dataran, nampaknya tidak mudah, membutuhkan waktu sudah lebih 1000 tahun
hingga kini. Kuatnya basis ideologi Desa Bali
Aga, terlihat sekta Brahma dan Indra melakukan revitalisasi ideologinya, terlihat sistem relegi di Desa
Sukawana, Songan (Indra) Trunyan (Indra), Tenganan Pegringsingan (Indra),
Gobleg (Waisnawa), Pedawa (Indra), Sepang (Indra/Surya),
Bungkulan-Depaha-Bulian-Tajun (Indra), dan desa kuno lainnya. Tamblingan
sebagai penganut sekta Brahma dan Wisnu, kemudian Brahmanismenya dihancurkan
(Sastra,2008; Krepun,tt). Pengideologikan Trimurti
(Mojopahitisasi) ini sulit
dipaksakan secara tuntas di Desa Bali Aga.
Seperti tidak mau wali/upacaranya dipuput oleh Pedanda. Bentuk upacara ngaben
lebih sederhana di Gobleg ngiyehin,
di Sidatapa ngaben adat. Inilah yang berdampak luas munculnya konflik laten
dalam berbagai dimensi di masyarakat (lihat Suyasa,2002).
Usaha
menyatukannya dari Gelgel (sebagai pemersatu), kemudian Besakih, Batukaru dan
Lempuyang, tidak serta merta berhasil. Kemudian Bali Aga dikoptasi dengan Kerbau/Sapi/Wadak
sebagai simbol Siwaisme. Seperti di Tenganan dilepas bebas Kebo Duwe, juga di Taro, di Mengani, Desa Selulung, Tampekan bahkan
menjadi hama, tetapi dihormati (Pageh, 2006). Upacara Bulu Geles (sapi) di Bulian, Bulu Emas (kerbau) di Bungkulan, dan
tidak boleh membawa kuda (kendaraan perang) ke Songan, dan sebagainya. Dan
upara Pemayuh Jagat dengan 12 kerbau,
upacara Pamalik Sumpah, dan wajib daging kijang di pura tertentu,
sebenarnya berideologi penyiwaan (lihat Disbud Bali, 2009; Pemda Bali, 1980).
Tradisi yang berusaha mensiwakan Bali Aga
sering tidak disadari oleh Desa Bali Aga,
bahkan sudah dianggap tradisi Bali Aga,
ini berkat kehebatan tokoh culture heroes
di Bali.[12]
Seluruh pura segaranya Desa Bali Aga
diproklamirikan dibangun oleh Nirartha, secara historis telah ada sekitar 5
adad sebelumnya. Untuk mengkultuskan
orang-orang suci dibikin Meru dengan tingkatan sebagai pembeda kesucian dan
kedudukan di Pura Kahyangan Jagat
(Titib, 2003:760).
Ketika terjadi konflik yang
diunggulkan ideologi trimurti dominasi ciwaisme. Usaha menyiwakan/mojopahitisasi
terus berlangsung hingga kini. Adanya usaha kelompok elite terpelajar dari
golongan nontriwangsa, mengadakan menyelusuran sampai ke India, ketika membawa
pembaharuan (Samradaya), dicurigai sebagai pengacau Ajeg Bali (lihat Sudiana,
2007; Soebandi,1983). Dengan demikian agama Hindu di Bali, masih berciri Agama
Hindu zaman Brahmana di India, mengutamakan ritual dibandingkan tatwanya.
Karena ada politik Agama melalui budaya, maka dibangun beberapa mitologi untuk
mengembangkan ideologi menjadi arus formal sebagai menerjemahkan kehigupan
beragama di Bali (Wikarman,1998). Bahkan konflik ideologi ini terarakhir
munculnya dua organisasi umat, yaitu PHDI Samuan Tiga dan PHDI Besakih (Sudiana,
2007).
2.5 Multy Level Role Model: Rekayasa Ideologi
Desa Pakraman Berbasis Kearifan Lokal Trihita
Karana.
Materi
rekayasa social, meliputi pemahaman konsep-konsep dasar ideologi, desa
pakraman, kearifan lokal trihita karana, sasaran
dan strategi. Materi, strategi rekayasa sosial, ditentukan oleh waktu,
masyarakat sasaran, dan sikon budaya masyarakat yang melingkupinya. Materi yang
disediakan menyangkut, (1) karakter pakraman desa Bali Aga, (2) perkembangan
pemujaan roh leluhur dari animisme- dinamisme (megalitik) dan pemujaan roh
leluhur, (3) Pemujaan roh raja (kultus Dewaraja), (4) wujud fisik pura
berideologi rwabhineda, seperti pura
Agung Gunun Raung, Taro, Dalem Balingkang, pura Daha Twa dan sebagainya, komplek pura Panorajon, (4)
Sistem pemerintahan Bali Aga, Bali Dataran, dan system pemerintahan lainnya.
(5) Perkembangan Desa Pakraman, dan (6) beberapa kearifan lokal Bali yang dapat
diungkapkan, (7) kearifan lokal Bali berbasis trihita karana, (8) kearifan lokal Mojopahitisasi, (8) kearifan
lokal kultural, dan dominasi ideologis desa dataran. Materi ini dapat dikemas
kembali sesuai dengan durasi, kelompok sasaran, dan kepentingan pakraman (lihat
“Buku Model Rekayasa Desa Pakraman Bali
Aga Berbasis Kearifan Lokal Trihita Karana di Era Globalisasi, Pageh 2011”.).
3. Simpulan dan
Saran
3.1 Simpulan
Klasifikasi
perbedaan ideologi dalam perspektif heroes
culture, menghasilkan babakan ideologi rwabhineda
pada abad ke-8, trimurti, apad
abad ke-11 dan dewa nawa sanga (Ciwa
Sidhanta) sejak abad ke-16. Pertumbuhan ideologi dengan tetap mengakomudasi
kepercayaan terhadap leluhur dan dinamisme memberikan ruang ideologi dominan
baru dengan lama saling resistensi, sehingga muncul karakter desa pakraman yang
bervariasi dan unik (desa-kala-patra).
Keyakinan
untuk mendapatkan keselamatan bersama, memunculkan sistem relegi akomodatif
dalam menerima dewa-dewa lokal dan kearifan lokal. Rwabhineda berkembang sejak
abad ke-8. Rsi Markandeya mengajarkan basis kekutan itu yang menjadi sumber
kehidupan ada pada dualisme harmonis (binarry
opostion), dengan kekuatan yang “dapat diduniakan” melalui empat kekuatan (sanak nyatur, dewa nyatur), kemudian
difungsikan sebagai penjaga musuh dari empat penjuru (nyaga satru), dilakoni penganutnya sehingga muncul dua saling
bertentangan. Muncul ajaran trimurthi
sejak abad ke-11, menempatkan triol dewa utama yaitu dewa Brahma, Wisnu dan
Siwa (utpeti, stiti, praline). Danghyang Nirartha menyempurnakan dan
memodifikasi relegi yang sudah ada, mengajarkan konsep Ida Sanghang Widhi Wasa, dan dewa nawa sanga ngider bhuwana, yang condong
ke Siwa Sidantha. Keinginan menyiwakan menjadi terjadi beberapa usaha melakukan
dominasi namun tidak selamanya berhasil, karena konflik laten dapat memunculkan
konflik terbuka setiap saat.
Pertarungan
mempertahankan ideologi ini, secara idealis dan praksis sering berdampak merugikan
Desa Bali Aga. Letak keunggulan sekta
trimurti yang didominasi oleh dewa nawa sanga, tidak pada keunggulan
filsafati, nilai, demokratisasi dan pelaksanaanya membentuk karakter masyarakat
Bali, tetapi ada pada keuntungan posisi yang mendapat dukungan dari penguasa
(kerajaan sampa republik). Usaha memarginalkan Bali Aga serta wujud budaya agamanya, tidak disadari terus
berlangsung hingga era globalisasi ini. Perbedaan ideologis bukan hanya
mengakibatkan konflik ideologis, tetapi juga konflik sistem tatwa, susila, dan upacara, di samping
sistem penataan parhyangan, pawongan dan palemahan (trihita karana) di era globalisasi. Multy Level Role Model:
Revitalisasi Ideologi ini merupakan tawaran bagaikan setitik air di samudra
luas, dalam marginalisasi desa Bali Aga.
3.2
Saran-saran
- Disarankan pada pemerintah memperhatikan perbedaan ideologi pakraman yang ada dalam mengambil kebijakan menyangkut trihita karana desa pakraman di Bali.
- Perlu diadakan pelestarian ideologi desa Bali Aga dengan revitalisasi ideologinya yang termarginalkan sudah hampir 13 abad,sehingga kearifan lokal desa Bali Aga dapat berkembang di era globalisasi.
- Direkomendasikan menggunakan Multi Level Role Model dalam pelaksanaan revitalisasi ideologi desa pakraman berbasis kearifan lokal trihita karana di era globalisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Atmaja, Jiwa. 2005. Leak dalam Foklore Bali. CV Bali Media Adhikarsa: Denpasar
|
Bagus,
AAG. 2007. “Kultus Dewa Raja dalam Seni
Arca di Pura Sibi Agung Kesian”, dalam Seri Penerbitan Forum Arkeologi, Nomor I Mei 2007.
Balai Arkeologi: Denpasar. Hal. 61-79.
|
Bangli,
IBP. 2004. Agama Tirtha dan Upakara. Paramita : Surabaya.
|
Bocok, Robert, t.t. Pengantar Komprehensif Untuk Memahami Hegemoni, I Mahyudin
(penerjemah). Jalasutra: Bandung.
|
Budhiartini,
PP. 2000. Rangda dan Barong Unsur Dua
Listik, Mengungkap Asal-Usul Umat Manusia. Lampung Tengah.
|
Carspecken,
P.F., (1998). Critical Etnography in Educational Research: A
Theoritical an Practical Guide. London and New York: Routledge.
|
Covarrubias,
M. 1973. Island of Bali. PT Java
Books Indoneisa : Jakarta.
|
Dharmayuda,
I Made Suasthawa. 1995. Kebudayaan Bali: Pra-Hindu, Masa Hindu dan Pasca
Hindu. Kayumas Agung: Denpasar.
|
Dharmayuda,
IMS. 1995. Kebudayaan Bali Pra Hindu,
Masa Hindu dan Pasca Hindu. CV Kayumas Agung : Denpasar.
|
Dinas
Kebudaaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng. 2006. Usada Bali. Pemerintah
Kabupaten Beleleng : Singaraja.
|
Dinas
Kebudayaan Provinsi Bali. 2009. Purana
Pura Dalem Balingkang, Alih aksara dan Terjemahan. Dinas Kebudayaan Provinsi Bali: Denpasar.
|
Geertz,
C. 1995. Kebudayaan dan Agama, Budi
Susanto (pen.). Kanisius : Yogyakarta.
|
Geria,
AAG. 1977. Desa Bedaulu. Proyek
Sasana Budaya Bali: Denpasar.
|
Kompiang
Gede, D. 1999. “Phallus dan Vulva di
Pura Puseh Mambal Badung, Tinjauan Bentuk dan Fungsinya”, dalam Seri
Penerbitan Forum Arkeologi, Nomor I
Juli 1999. Balai Arkeologi: Denpasar. Hal. 24-33.
|
Kompiang
Gede, D. 2007. “Potensi Kehidupan
Prasejarah di Pura Dang Khayangan Luhur Pasatan, Kabupaten Jembrana”, dalam
Seri Penerbitan Forum Arkeologi, Nomor
II Oktober 2007. Balai Arkeologi: Denpasar. Hal. 110-123.
|
Korn,
VE. 1978. Hukum Adat Kekeluargaan di Bali. I Gde Wayan Pangkat
(penerjemah). Biro Dokumentasi dan Publikasi FH. Unud Denpasar.
|
Kukla,
A. 2003. Konstruktivisme Sosial dan
Filsafat Ilmu. Jendela : Yogyakarta.
|
Kusumawati,
A. 1996. “Unsur-unsur Prasejarah pada
Arca-arca Pemujaan di Beberapa Pura di Bali (Kajian Data Arkeologi) dalam
I Wayan Ardika dan I Made Sutaba (ed.)
Dinamika Kebudayaan Bali. Upada Sastra : Denpasar.
|
Kyimlicka,
W. 2003. Kewargaan Multikultural.
PT Pustaka LP3ES Indonesia : Jakarta.
|
Leanch,
Edmund. 1968. “Claude Levis-straus: Athropoloist and Philosopher”, dalam Theoy in Antropology A Sourcebook. Robert
A. Manners dan David Kaplan (eds.). Chicago: Aldine Publish Company.
|
Mahaviranata,P.
1993. “Celak Kontong Lugeng Luwih”, dalam
Seri Penerbitan Forum Arkeologi, Nomor
I Maret 1993. Balai Arkeologi: Denpasar. Hal. 1-5.
|
Mantra,
IB. 1997. Tata Susila Hindu Dharma.
Upada Sastra: Denpasar.
|
Nadjamuddin,
L. 2002. Dari Animisme ke Monoteisme,
Kristenisasi di Poso 1892-1942. Yayasan Untuk Indonesia: Yogyakarta.
|
Nordholt,
HS. 2006. The Spel of Power, Sejarah Politik Bali
1650-1940. Pustaka Larasan : Denpasar.
|
Nurkancana,
W. 2009. Menguak Tabir Perkembangan
Hindu. Offset BP Denpasar : Denpasar.
|
O’Donnell,
K. 2009. Sejarah Ide-Ide. Kanisius
: Yogyakarta.
|
Pageh,
IM; Atmadja, NB. 2010. Sejarah dan
Kearifan Berbangsa, Bunga Rampai Perspektif Baru Pembelajaran Sejarah.
Pustaka Larasan : Denpasar.
|
Parimartha, I Gde.
“Desa Adat. Desa Dinas, dan Desa Pakraman di Bali: Tinjauan Historis
Kritis”, dalam Politik Kebudayaan dan Identitas Etnik,
Ardika, I Wayan dan Dharma Putra (ed.). Balimangsi: Faksas Unud Denpasar.
|
Parisada
Hindu Dharma Indonesia. 2006. Selayang Pandang Pura Ulun Danu Batur.
Kabupaten Bangli : Bangli.
|
Pemda
Provinsi Daerah Tingkat I Bali. 1980. Bali
Tempo Doeloe. Pemda Provinsi
Daerah Tingkat I Bali: Denpasar.
|
Pitana,
I Gde; Setiawan, AP. 2005. Revitalisasi
Subak dalam Memasuki Era Globalisasi. Andi: Yogyakarta.
|
Putrawan,
N. 2008. Babad Bali Baru: Sejarah
Kependudukan Bali 1912-2000. Manikgeni: Denpasar.
|
Saiffudin,
A.F. 2006. Antropologi Kontemporer:
Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Prenada Media Group: Jakarta.
|
Sastra,
G.S. 2008. Bhujangga Waisnawa dan Sang
Trini. Pustaka Bali Post: Denpasar.
|
Steger,
MB. 2005. Globalisme, Bangkitnya
Ideologi Pasar. Lafadl Pustaka : Jogjakarta.
|
Stuart-Fox,
DJ. 2010. Pura Besakih: Pura Agama dan
Masyarakat Bali. Pustaka Larasan: Denpasar.
|
Suantika,
IW. 1993. “Sri Maha Raja Haji
Jayapangus, Cakap dan Bijak”, dalam Seri Penerbitan Forum Arkeologi, Nomor I Maret 1993. Balai Arkeologi: Denpasar.
Hal. 71-77.
|
Suarbhawa,
IGM. 1993. “Migrasi pada Masyarakat
Bali Kuna”, dalam Seri Penerbitan
Forum Arkeologi, Nomor I Maret 1993. Balai Arkeologi: Denpasar. Hal.
78-87.
|
Sudarsana,
K.2005. Bali Dwipa Mandhala.
Denpasar.
|
Sudiana,
IGN; Artha,IM. 2007. Samhita Bhisama,
Parisada hindu Dharma. PHDI: Denpasar.
|
Sudiasta,
IGB. 2002. Katuturan Jro Pasek Bulian.
Gedong Kirtya : Singaraja.
|
Sugriwa,
IGB. 1991. Dwijendra Tatwa. Upasada Sastra : Denpasar.
|
Sutha,
I.G.K. 1993. “Hukum Adat dalam Kaitannya dengan Kebudayaan Serta Kepribadian
Bangsa (dalam Menghadapi Berbagai Tantangan dan Arus Globalisasi)”, dalam Kebudayaan
dan Kepribadian Bangsa. Upadasastra:Denpasar.
|
Syafa’at,
R (et all.). 2008. Negara, Masyarakat Adat dan Kearifan
Lokal. In-Trans Publishing: Jawa Timur.
|
Syam,
N. 2009. Tantangan Multikulturalisme
Indonesia. Kanisius : Yogyakarta.
|
Titib,
IM. 2003. Teologi dan Simbol-Simbol
dalam Agama Hindu. Paramita : Surabaya.
|
Titib,
M. 1989. Pengertian Pura dan Bangunan
Suci di Bali. Dharma Jati : Denpasar.
|
Wikarman,
INS. 1998 . Sanggah Kamulan, Fungsi dan
Pengertiannya. Paramita : Surabaya.
|
Wingarta,
P.S.2006. Bali-Ajeg, Ketahanan Nasional
di Bali Konsepsi dan Implementasinya Perspektif Paradigma Nasional.
Grafika Indah : Jakarta.
|
Wisnumurti,
AAGO. 2008. Elite Lokal Bali. Arti
Foundation : Denpasar.
|
Yendra,
I W. 2008. Dokter Bali Spesialis Leak,
I Balian Putus, Mengobati Tanpa Obat Menyembuhkan Tanpa Kambuh. Paramita:
Denpasar.
|
Yudabakti,
I M.; Watra, I W. 2007. Filsafat Seni
Sakral dalam Kebudayaan Bali. Paramita: Surabaya.
|
[1] I
Made Pageh, Wayan Suyasa, Wayan
Sugiartha adalah dosen Jurusan Pendidikan Sejarah FIS, mendapat hibah Strategis
Nasional tauhn 2010/2011. Bibiayai dari Anggaran DIPA Lembaga,
dengan Kontrak No. 0541/023-04.1.01.00/2011.Tanggal 20 Desember 2010
[2] Hampir setiap pura
kuno yang dikunjungi dalam penelitian ini ada pohon besarnya, benda
purbakalanya, baik di dalam lingkungan Pura maupun di luar pelinggih. Umumnya
di pura-pura kuno hidup Pohon Beringin, pohon Jepun, dan pohon Pule.
[3] Kepercayaan asli
Melayu Austronesia ini disebut Animisme dan Dinamisme, berkembang sejak zaman
Megalithik, tradisi Megalithik ini masih banyak ditemukan dilaksanakan di
Pura-pura kuno.
[4]Kepercayaan ini
dikonsep dalam nama ajaran Rwabhineda
pertentangan dua unsur yang nampaknya bertentangan, namun jika harmoni terjadi
baru disebut hidup sejati.
[5]Diyakini dapat
memberikan manfaat untuk keselamatan, misalnya dalam keadaan perang, dan
konflik masal yang mengatasnamakan desa/kelompok kawitan. Benda sakral itu
diyakini bisa menyebabkan kebal, kuat dan memiliki ciri-ciri kekuatan diluar
jangkauan akal sehat.
[6]Awig-awig Desa Songan,
(1912 Caka:5-6); Wawancara dengan Mangku Songan (23th), dan hasil pengamatan
partisifasi aktif saat wali Bhatara Turun Kabeh di Ulun Danu Batur Songan.
Genting Negara bermakna perang dengan negara (desa) lain yang menjelekkan
Songan. Hal ini terbukti tahun 2011 terjadi kasus konflik desa dengan desa
Kawan Bangli bentrok terjadi sampai mengorbankan seorang dari Desa Songan.
[7] Wawancara dengan Jero
Pande Eka Songan (52th), Pan Suwati Tabanan (75th), Sri Mpu Juwuk Manis Negara
(48th), Mangku Sumedana Sepang 72th), Jero Gede Sutawan (48 th), Jero Mangu
Kartika Songan (23 th).
[8] Mengikuti Edmund Lech
(1968) “Laude Levi-Strauss – Anthropologis and Philosopher”, dalam Theory in Anthropology A Sourcebook,
Robert A. Manners and David Kaplan (eds.). dan John Pike Teori Struktural Prancis (1967).
[9] Desa Julah tanah desanya
telah dikonversi menjadi milik perorangan, disertifikasi sehingga siklus
bergilir hilang.
[10] Mpu empat bersaudara,
yaitu Mpu Semeru (Siwaisme) di Besakih, Mpu Ghana di Dasar Bhuana Gelgel, Mpu
Kuturan (Bhudaisme) di Silayukti,dan Mpu Genijaya (Brahmanisme) di Lempuyang
Luhur.
[11] Galungan sudah ada
zaman Bali Aga, sebagai upacara
syukur dan “berterimakasih pada-Nya” atas berlangsungnya panen raya. Tradisi memed-medan, gabur-gaburan air, perang
ketupat, meguak-guakan, guak ngalih ikut, tradisi di Sanur dan Kapal, ciri
Waisnawa. Juga Penjor simbol Sungai (Waisnawa) diubah menjadi Nagabasuki
(Ciwais) di Gunung Besakih, ideologi mengubah Waisnawa menjadi Siwaisme.
[12] Danghyan Nirartha
memiliki 6 istri (3 orang dari Penyeroannya),
lahir 10 anak (9 Laki dan 1Perempuan). Poligami dianggap legal pada zaman itu,
sehingga tidak dianggap Cuntaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar